Manajemen merupakan kegiatan mengelola (to manage). Mengelola apa saja, bisa aset, waktu, manusia, barang dan lain sebagainya. Nah karena sedemikian luas lahan garap manajemen, maka kemunculan manajemen juga memiliki banyak wajah. Ada kalanya manajemen tampil sebagai sebuah seni, sebagai ilmu dan sebagian menampilkannya sebagai lifestyle. Di sinilah menariknya, lantaran dalam realitas kehidupan, batas-batas antar wajah tersebut nyaris sulit ditemukan. Batasan hanya ada dalam kepala kita, alias dunia ide. Realitas masyarakat hanya mengenal praktek manajemen dalam dua bentuk, manajemen by design dan manajemen by utilitize. Yang pertama adalah praktek manajemen yang dengan sengaja dirancang dengan pola baku tertentu, bahkan terkadang mengikuti suau konsep manajemen tertentu. Sedang yang kedua, orang begitu saja melaksanakan apa adanya, sambil merapikan ini dan itu tanpa mengikuti atau mempedomani suatu teori atau falsafah manajemen tertentu.
Manakala ilmu manajemen dilirik oleh studi pendidikan, muncul penafsiran umum tentang manajemen pendidikan. Kebanyakan praktisi pendidikan mengartikan, manajemen pendidikan adalah manajemen + pendidikan. Tentu saja, penalaran ini tidak bisa disalahkan. Hanya saja, dalam beberapa kasus konsepsi ini relative sulit untuk dipertahankan.
Sebuah analogi dikemukakan untuk mendukung keberatan tadi. Jika air -yang istilah kimianya adalah H2O- terbuat dari Hidrogen dan Oksigen, bukan berarti persenyawaannya memiliki karakteristik yang sama ataupun mirip dengan unsure pembentuknya. Karakteristk air (H2O) sama sekali tidak mirip dengan hydrogen ataupun oksigen. Misalnya Oksigen dan Hidrogen mudah terbakar, namun air justru mematikan api. Nah, demikian juga dengan manajemen + pendidikan tidak menutup kemungkinan juga menghasilkan persenyawaan yang sama sekali berbeda dengan unsur pembentuknya.
Sebagai bukti pertama, mari bandingkan kurikulum mata kuliah manajemen pendidikan di kampus-kampus bekas IAIN dan IKIP. Maka manajemen di sana cenderung tereduksi menjadi manajemen persekolahan. Belum lagi, bukti kedua, bahwa jika manajemen hari gini sangat berkembang pesat dari rahim dunia usaha, maka manajemen pendidikan justru mengadopsi teori-teori yang dari rahimnya sudah dianggap usang. Nothing new behind the school desk. Gitu ejekan orang master manajemen betulan, lantara pendidikan sepi akan gagasan baru yang berkontribusi bagi perkembangan ilmu manajemen terkini.
Lalu, so what gitu loh…..
Kami menawarkan wajah baru manajemen pendidikan dalam 3 dimensi; dimensi manajemen, dimensi leadership dan dimensi entrepreneurship.
Manakala ilmu manajemen dilirik oleh studi pendidikan, muncul penafsiran umum tentang manajemen pendidikan. Kebanyakan praktisi pendidikan mengartikan, manajemen pendidikan adalah manajemen + pendidikan. Tentu saja, penalaran ini tidak bisa disalahkan. Hanya saja, dalam beberapa kasus konsepsi ini relative sulit untuk dipertahankan.
Sebuah analogi dikemukakan untuk mendukung keberatan tadi. Jika air -yang istilah kimianya adalah H2O- terbuat dari Hidrogen dan Oksigen, bukan berarti persenyawaannya memiliki karakteristik yang sama ataupun mirip dengan unsure pembentuknya. Karakteristk air (H2O) sama sekali tidak mirip dengan hydrogen ataupun oksigen. Misalnya Oksigen dan Hidrogen mudah terbakar, namun air justru mematikan api. Nah, demikian juga dengan manajemen + pendidikan tidak menutup kemungkinan juga menghasilkan persenyawaan yang sama sekali berbeda dengan unsur pembentuknya.
Sebagai bukti pertama, mari bandingkan kurikulum mata kuliah manajemen pendidikan di kampus-kampus bekas IAIN dan IKIP. Maka manajemen di sana cenderung tereduksi menjadi manajemen persekolahan. Belum lagi, bukti kedua, bahwa jika manajemen hari gini sangat berkembang pesat dari rahim dunia usaha, maka manajemen pendidikan justru mengadopsi teori-teori yang dari rahimnya sudah dianggap usang. Nothing new behind the school desk. Gitu ejekan orang master manajemen betulan, lantara pendidikan sepi akan gagasan baru yang berkontribusi bagi perkembangan ilmu manajemen terkini.
Lalu, so what gitu loh…..
Kami menawarkan wajah baru manajemen pendidikan dalam 3 dimensi; dimensi manajemen, dimensi leadership dan dimensi entrepreneurship.